Rabu, 10 Juni 2009

ANAK-ANAK BADAI KANCAH BATIN KAUM PEREMPUAN

Menyaksikan sebuah pementasan drama seseorang itu tidak cuma harus menonton, tapi juga harus merasakan apa sebenarnya yang sedang berlangsung di atas pentas. Menonton pertunjukan tater beda dengan menonton film maupun senetron. Teater adalah seni pertunjukan yang sarat dengan kata-kata. Kekuatan kata adalah sihir yang akan membuat penonton bertekuk lutut begitu pemain menyampaikan kata demi kata yang di tuangkan oleh pengarang lakon ke dalam pelaku yang sedang beraksi di hadapan semua penonton. Kekuatan kata adalah modal utama seorang pemain untuk membuat banyak orang terpukau saat scen demi scen berlangsung di atas pentas.
Itulah yang belum dapat penulis rasakan saat menonton 'ANAK ANAK BADAI' karya Muhammad Yunus yang di gelar teater Siklus InArt Medan tanggal 26 Mai 2009 lalu di gedung Tari Taman Budaya Sumatera Utara. Anak-anak Badai adalah jeritan nurani seorang perempuan yang tertekan oleh keadaan, nasib keberuntungan yang tak pernah berpihak kepadanya. Ia melahirkan banyak anak-anak prematur. Anak-anak dosa akibat perbuatan dosa orang-orang yang menjinahinya. Yang memperkosanya. Yang merendahkannya sebagai seorang perempuan.
Kata memang harus mampu membuat penonton tertegun. Pada hal semua kemampuan itu sudah dimiliki semua permain yang mendukung lakon AAB. Sayangnya kemampuan yang ada itu tidak sempat terperhatikan oleh Cory Islamy sebagai sutradara muda. Mungkin di pementasan berikutnya, Cory Islamy akan lebih jeli lagi. Namun pementasan AAB tidak jelek. Tapi bagus kalipun juga tidak. AAB berada di tempat yang sedang-sedang saja. Maju terus Cory....
(erha)

TURUT BERDUKA CITA ATAS
BERPULANGNYA IBUNDA YS. RAT,
DI JALAN MADIOSANTOSO, Gg.BUDI MEDAN.
MOGA ARWAH IBUNDA MENDAPAT TEMPAT YANG LAYAK DISISINYA, DAN YANG DI TINGGALKAN, ANAK DAN CUCU-CUCUNYA TETAP TABAH MENGHADAPI MUSIBAH YANG KITA SEMUA NANTINYA AKAN MENGHADAPINYA.

DARI REKAN-REKAN YANG GABUNG DI TEATER IMAGO
DAN TEATER NASIONAL MEDAN.

Senin, 08 Juni 2009

AGAM ZAPINA PAMERAN

Lama juga penulis tidak bertemu dengan saudara Agam Zapina. Petang itu secara kebetulan beliau bertemu dengan penulis di Taman Budaya Sumatera Utara. Agam Zapina sudah terlihat sepuh. Janggut dan kumis yang ia biarkan tumbuh, telah putih semua. Agam Zapina tangga 14 Juni 2009 (munggu) akan mengadakan serangkaian pameran lukisan bersama beberapa teman di pusat perbelanjaan Paladium Medan. Beberapa karya Agam Zapina akan dipamerkan.

Dalam kesempatan petang itu, Agam menanyakan hal rekan Slamet Khairi yang ia tidak tahu telah dipanggil Khaliknya sekitar enam bulan lalu. SAlamet Khairi adalah tokoh seni rupa Medan yang kepergiannya tidak banyak diketahui rekan-rekan sesama pelukis.

(erha)